Selasa, 30 Juli 2013

Amore - Cinta, Cinta, dan Cinta

Mungkin saya sedang buntu ide ya, memberi judul berupa kata cinta yang diulang-ulang. Yah, itu karena kali ini saya tidak hanya akan membahas satu, melainkan tiga novel roman. Ketiga novel roman yang diberi label Amore ini merupakan pemenang lomba penulisan novel yang diadakan oleh Gramedia.

Pemenang pertama:

Mahogany Hills oleh Tia Widiana



Walaupun banyak hal klise dan dramatis berlebihan yang saya temukan dalam buku ini, secara keseluruhan ceritanya mengalir dan enak dibaca. Hubungan antara kedua tokoh utama layak disimak dan membuat geregetan. Paras yang luar biasa sabar menghadapi kelakuan brengsek suaminya, dan Jagad yang setengah mati menyangkal perasaan cintanya pada sang istri dengan bersikap dingin. Bagi saya, alasan di balik perilaku Paras dan Jagad itu agak konyol dan menimbulkan pertanyaan. Alasan Paras adalah kepercayaan akan cinta pertama (sentimentil dan romantis sekali ya?), sedangkan alasan Jagad adalah menepati janji (pada orang yang salah pula). Kalau dibandingkan, sebenarnya alasan Paras itu agak lebih masuk akal daripada alasan Jagad.

Sudah bisa ditebak bahwa novel ini akan berakhir bahagia, tetapi jalan menuju kebahagiaan itu berat dan penuh cobaan. Epilognya cukup asik, dimana kita menjadi pengamat jarak jauh untuk mengetahui kelanjutan kisah antara Paras dan Jagad. Sepertinya saya menemukan beberapa typo dalam buku ini, tetapi saya tidak begitu memerhatikan.

Sampul depan buku ini saya suka; perpaduan merah jambu dan hijau pastel yang memberi kesan cantik dan lembut. Fokus ilustrasi ada pada rumah (Mahogany Hills) yang terlihat mengundang. Sayangnya, sampul belakang buku begitu polos dan membosankan. Sedangkan untuk lay-out di dalam buku lumayan bagus, walaupun pilihan font-nya standar.

Pemenang kedua:

Hawa oleh Riani Kasih


Judulnya Hawa, tapi kok sepertinya cerita kurang fokus pada tokoh Hawa (the heroine). Di awal-awal cerita malah lebih fokus pada Praba (ayah Hawa) dan Landu (the hero). Hubungan antara Hawa dan Landu cukup bagus, dan deskripsi tempat juga bagus, tetapi penyelesaian konflik terasa hambar dan membuat saya mengerutkan kening "Hah, cuma begitu saja?" Membosankan. Ditambah lagi, di sekitar 30 halaman terakhir disajikan konflik baru yang terkesan dipaksakan.

Saya tidak suka dengan karakter Hawa. Di awal cerita disebutkan dia terpuruk karena gagal menikah. Oke, itu masih normal. Yang menurut saya tidak normal adalah, dia terpuruk (baca: mengurung diri di kamar dan menangis dan meratapi diri terus-menerus) selama dua bulan lebih, padahal yang membatalkan pernikahannya adalah dia sendiri, bukan calon suaminya. Duh. Saya benar-benar tidak suka dengan orang yang tidak produktif seperti ini. Kemudian di bagian kedua cerita (dalam 30 halaman terakhir yang saya sebutkan di atas), Hawa terpuruk lagi karena dia mengalami kecelakaan dan menjadi buta. Selama berbulan-bulan dia menolak bicara. Menurut saya, ini konyol; dia kan menjadi tunanetra, bukan tunawicara (kalau dia menjadi tunarungu itu lain lagi ceritanya, karena tunarungu dan tunawicara sangat berkaitan). Walaupun dia sangat depresi, masa sampai segitunya sih?

Banyak typo yang saya temukan disini, dan saya tidak bisa menahan diri untuk mencoret-coret bukunya.

Hal. 102
"Aku cuma takut kalau kelak kenangan-kenangan yang aku ciptakan ini hanya menjadi kenangan, Oma."

Apa cuma saya saja yang merasa aneh dengan kalimat ini? Coba bandingkan dengan kalimat berikut:

"Aku cuma takut kalau kelak kenangan-kenangan baru ini hanya akan menjadi kenangan pahit, Oma." 
Tentang sampul bukunya .... hmmm ... terkesan sangat feminin dan romantis karena didominasi warna merah jambu, tetapi ilustrasinya kurang menarik. Oh iya, bunga dandelion yang bertebaran di sampul dan di dalam buku itu terkesan cuma sempilan, karena bunga itu menggambarkan Hawa yang (katanya) terbang kemanapun angin membawa. Yah, maaf saja, saya tidak melihat dimana persamaan antara Hawa dan bunga dandelion.

Pemenang ketiga:

Heart Quay oleh Putu Felisia


Membaca buku ini benar-benar membuat saya emosi dan sakit hati (untuk alasan pribadi). Untung saja saya sedang tidak shaum, karena shaum saya bisa-bisa batal karena terlalu emosi. Walaupun dalam sinopsis disebutkan bahwa ini cerita cinta antara Zoya dan Kenneth, fokus cerita tidak hanya pada kedua orang ini saja. Elang (mantan pacar Zoya) dan Tiara (sahabat Zoya) mengambil porsi yang cukup besar di dalam cerita.

Kalau menurut saya, buku ini dipenuhi oleh orang-orang gila dan sado-masokistis yang gemar menyakiti dan disakiti. Coba beri mereka pisau, mungkin sudah saling membunuh. Saya emosi karena mempertanyakan akal sehat mereka sejak awal hingga akhir cerita. Sepertinya satu-satunya orang yang agak waras otaknya cuma Kenneth.

Kisah cinta yang disajikan absurd, sedangkan kisah persahabatannya ... *geleng-geleng kepala* benar-benar membuat saya kecewa. Sahabat macam apa yang saling menyimpan rahasia dan saling tidak tahu kesulitan satu sama lain? Jangankan saling mendukung, mengetahui kesulitannya saja tidak! Sedangkal itukah makna persahabatan? Kalau ada moral cerita di buku ini, saya tidak dapat melihatnya.

Hal. 223
Zoya: Akankah luka itu menghilang, San?
Santi: Tentu saja.

Omong kosong. Luka tidak akan menghilang; waktu akan menutupinya dengan helai-helai perban, tapi dia akan tetap ada.

Terkait sampulnya, saya cukup suka. Didominasi kombinasi warna hijau dan gambar pemandangan, sampulnya terlihat asli, manis, dan menyegarkan. Yang paling saya suka adalah permainan huruf "a" di judul Heart Quay. Pilihan lay-out dan jenis font nampak biasa saja, tapi saya suka karena tiap bab memiliki judul tersendiri, bukan sekadar satu-dua-tiga.

2 komentar:

  1. suka cara mereviewnya yang lugas, review yang ,menarik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir, mbak >,<

      Hapus