Senin, 27 Juni 2016

Lady Detective, Manhwa dengan Sentuhan Klasik

Awal mula saya menemukan komik Lady Detective adalah ketika saya sedang melihat-lihat etalase Dojo Buku di Tokopedia. Waktu itu saya berniat untuk membeli volume 5 manga Les Miserables, tapi saya pikir sayang ongkos kirimnya kalau tidak sekalian membeli buku lainnya. Lalu saya melihat gambar sampul volume 3 manhwa Lady Detective, dan saya langsung tertarik, karena ada nuansa biru dan hitam, juga desain judulnya cantik, elegan, bernuansa klasik.

Lebih lanjut, di sampul tersebut tersurat bahwa serial ini akan tamat di volume 6. Termasuk serial pendek yang saya pikir tak akan membuatnya saya tersiksa mengumpulkannya. Saya pun membaca sinopsisnya. Di situ ada kata-kata konspirasi, pembunuhan, dan misteri, yang cukup membuat saya tertarik. Ditambah lagi latar belakang ceritanya adalah Inggris abad ke-19. Saya langsung terbayang Jane Austen.


Lady Detective
Volume 1 | 2 | 3
(Versi terjemahan Bhs. Indonesia di Goodreads)



Lady Detective mengisahkan tentang seorang gadis muda cerdas bernama Elizabeth/Lizzie Newton. Dia penulis novel populer yang menggunakan nama alias Logica Docens. Pada zaman itu, wanita pada umumnya dianggap makhluk-makhluk bodoh yang hanya bisa bersolek dan menghamburkan uang. Jarang ada gadis seperti Lizzie yang senang belajar dan maniak buku. Kesukaan Lizzie terhadap buku diwarisinya dari almarhum sang ayah. Di rumahnya ada perpustakaan besar berisi koleksi buku sang ayah, sebagian di antaranya langka dan amat berharga. Lizzie sepertinya bertekad menambah koleksi buku tersebut. Ibu Lizzie sama sekali belum dibahas, jadi entahlah dia masih hidup atau sudah meninggal.

Ayah Lizzie semasa hidupnya mengadopsi seorang bocah lelaki dari kalangan bawah, karena dia menilai bocah ini memiliki potensi. Bocah ini bernama Edwin White, dan dia tumbuh menjadi pemuda cerdas (dan ganteng tentunya). Dia sekolah di Eaton dan setelah lulus menjadi pengacara andal yang langsung memenangkan 30 kasus berturut-turut. Setelah ayah Lizzie meninggal, Edwin cuti jadi pengacara dan menjadi kepala pelayan (butler) di rumah keluarga Newton.

Hubungan antara Lizzie dan Edwin cukup rumit. Awalnya Edwin berperan sebagai kakak, kemudian sebagai tunangan, dan kini juga sebagai wali dan pelayan.

Sumber: zerochan.net

Dalam setiap volume, ada satu kasus atau teka-teki yang harus dipecahkan Lizzie (dengan bantuan Edwin). Volume 1 dan 3 berkaitan dengan kematian, tapi volume 2 tidak. Tapi justru di volume 2 ini yang menurut saya ceritanya menarik, karena berkaitan dengan dunia buku dan penerbitan... hohoho. Di volume 2 ini muncul tokoh menyebalkan bernama Andrew R. Kenneth (disingkat ARK) yang merupakan editor Lizzie. Mereka berdua sama-sama maniak buku dan saling iri akan koleksi satu sama lain. Dan di akhir volume 2 juga muncul nama tokoh yang bagi saya cukup mengejutkan: Moriarty.

Jalan cerita Lady Detective sebenarnya tidak terlalu istimewa kalau dilihat dari sisi misterinya, tapi saya tetap bisa menikmatinya karena ada sisipan adegan-adegan konyol yang bisa bikin tertawa. Selain itu, sisipan-sisipan sejarahnya lumayan menambah wawasan. Secara keseluruhan saya akan memberi nilai 3.5 bintang.


Tokoh-tokoh dalam Lady Detective menurut saya cukup menarik karakternya. Setiap tokoh punya plus minus masing-masing yang menjadikan mereka manusiawi.

Elizabeth Newton

Lizzie Newton amat sadar bahwa dirinya cerdas, cantik, dan kaya raya, jadi sikapnya cenderung angkuh dan menyebalkan. Tapi sikapnya ini bisa dimaklumi, karena sebagian besar orang meremehkannya hanya karena dia perempuan. Saat ini Lizzie masih fokus menulis dan belajar, dan sepertinya tidak berminat bermesra-mesraan dengan tunangannya.

Edwin White

Edwin White adalah lelaki pendiam yang baru akan terusik jika berhadapan dengan masalah yang menyangkut Lizzie. Di luar dugaan, dia juga romantis dan tidak mau memaksakan perasaannya pada Lizzie; dia tidak mau mereka menikah karena terpaksa, melainkan karena benar-benar saling mencintai.
Selain cerdas, Edwin juga jagoan bermain anggar.


Charles D Gray adalah orang yang katanya detektif terbaik di London, tapi tampak tolol di hadapan Lizzie dan Edwin. Dia awalnya merendahkan kemampuan Lizzie, tapi pada akhirnya mau mengakuinya. Bahkan mungkin dia mulai naksir? hohoho. Walaupun wajahnya imut-imut, sebenarnya usia dia sudah kepala 3, dan sejak ditinggal kekasihnya gara-gara dia ikut perang, Charles jadi tidak percaya perempuan.


Lestrade (nama panggilannya Lele) adalah polisi yang selalu menemani Charles di serial ini. Lucunya, dia digambarkan menyerupai Lego (iya, mainan susun bangun itu). 



ARK adalah editor Lizzie, sekaligus direktur penerbitannya. Dia mewarisi usaha itu dari ayahnya. Sebagai orang yang maniak buku (dia terutama memuja penulis-penulis Perancis), dia sampai repot-repot mendatangi Victor Hugo untuk meminta tanda tangannya di buku Les Miserables cetakan pertama. Dia juga ternyata adik sepupu Charles.

Sumber: zerochan.net

Sepertinya Volume 4 Lady Detective baru saja rilis, dan saya berencana membelinya setelah selesai liburan nanti. Sesuatu yang layak ditunggu-tunggu, karena sepertinya tokoh Moriarty akan muncul lagi. Apakah dia Moriarty yang sama dengan musuh bebuyutannya Sherlock Holmes? Kita lihat saja nanti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar