Selasa, 15 Maret 2016

Coraline, Gadis Kecil dengan Keberanian Besar

Kalau saya tidak salah ingat, Coraline adalah buku Neil Gaiman pertama yang saya baca. Saya terkesan dengan gaya tulisannya, dan ingin membaca buku-buku Gaiman lainnya. (Sepertinya buku Gaiman saya yang kedua adalah Stardust--dan itu pun mengesankan.)


Sekitar tahun 2007, saya membeli Coraline versi terjemahan Bhs. Indonesia, yang dihiasi oleh ilustrasi-ilustrasi karya Dave McKean. Saya pribadi kurang suka dengan gaya ilustrasinya yang terkesan kurang rapi, tapi gaya itu sangat cocok dengan kisah Coraline, menambah atmosfer seramnya. Belum lama ini, di awal tahun 2016, saya membeli boxset Neil Gaiman yang berisi Coraline, The Graveyard Book, dan Fortunately, The Milk, yang ketiganya menggunakan ilustrasi-ilustrasi karya Chris Riddell. Berhubung saya suka gaya ilustrasi Riddell, saya tidak menyesal membeli boxset ini, meski harganya cukup mahal.

Kalau ada yang saya sesali, itu adalah terlewat tidak membeli Coraline versi gravel. Saya benar-benar tidak tahu buku itu ada dan sudah diterbitkan di Indonesia. Dan sekarang buku itu sudah langka T_T Maklum, waktu itu akses internet dan informasi di sosmed tidak semarak sekarang. Untuk tahu info buku-buku baru, saya harus berkunjung dulu ke toko buku... suatu hal yang tidak bisa terlalu sering saya lakukan.


Rumah baru, petualangan baru

Cerita dimulai dengan kepindahan Coraline dan ayah-ibunya ke Pink Palace. 

Pink Palace adalah sebuah rumah besar yang dibagi-bagi menjadi beberapa apartemen, dan keluarga Coraline menempati salah satunya. Di loteng ada Mr. Bobinsky dan tikus-tikus peliharaannya, di basemen ada Miss Spink dan Miss Forcible, dua aktris yang sudah pensiun.

Coraline yang berjiwa petualang segera saja menjelajahi lingkungan sekitar rumah itu. Namun suatu hari, hujan deras turun, dan Coraline terjebak di dalam rumah. Bosan setengah mati. Kedua orangtuanya sibuk bekerja dengan komputer masing-masing, sama sekali tidak bisa diganggu. Coraline pun menjelajahi Pink Palace, dan menemukan sebuah pintu yang terkunci. Ketika dibuka, di balik pintu itu ada dinding batu bata. Menurut ibu Coraline, mungkin pintu itu menuju ke apartemen lain.

Malamnya, Coraline terbangun mendengar bunyi-bunyi berisik, seperti suara tikus. Saat mencari sumber suaranya, Coraline mendapati bahwa pintu misterius itu terbuka, dan di baliknya ada ruangan. Penuh rasa penasaran, Coraline melangkah melewati ambang pintu. Dia sama sekali tidak menyadari bahaya apa yang menantinya di sana... dan bahwa dia akan dipaksa mempertaruhkan jiwanya.

Beldam versi Riddell

Dia menginginkan sesuatu untuk dicintai...

...atau untuk dimakan.

The other mother, atau Beldam, dalam Coraline adalah salah satu tokoh antagonis paling mengerikan. Dia memiliki mata dari kancing hitam besar, dan dia ingin menjahit kancing serupa di matamu... dia bilang itu karena dia mencintaimu... dan ingin agar kamu selalu berada di sisinya.

Beldam versi McKean

Jika dipikirkan, sosok Beldam itu menyedihkan. Dia sebenarnya tidak mengenal cinta, dia menyamakan konsepnya dengan kepemilikan. Tak peduli seberapa banyak anak yang dia culik untuk dicintai dimiliki, dia tidak akan pernah puas.

Dunia tempat tinggal Beldam adalah dunia palsu, dan dia terjebak di dalamnya... karena itulah dia berusaha menarik anak-anak ke dalam dunia itu, untuk menemaninya. Mungkin selama ini, dia kesepian.


Dari mana datangnya keberanian?

Salah satu kutipan favorit saya dalam Coraline adalah ini. 

"Ketika kau takut, tapi tetap bertindak, itulah yang disebut berani."

Bisanya, orang jadi berani ketika dia berada dalam situasi yang mendesak, ketika dia dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Pernahkah kau bisa melakukan sesuatu yang pada kondisi normal kau anggap tidak mungkin? :)

Dalam kenyataan, keberanian tidak selalu terkait kondisi hidup-mati, seperti yang dihadapi Coraline, tapi juga keberanian untuk mengambil risiko. Keberanian untuk melepaskan sesuatu yang selama ini membuat hidupmu nyaman.

Sumber: impawards.com

Bagaimana dengan filmnya?

Ah, ya... Coraline telah diangkat ke layar lebar dengan judul sama pada tahun 2009. Ada sedikit perbedaan dengan versi bukunya, dan ada penambahan karakter, tapi secara keseluruhan filmnya sangat bagus. Musik dan lagu yang digunakan juga bagus dan pas. Bahkan, saya tidak bosan berulang kali menonton Coraline dan mendengarkan album OST-nya.

Visualisasi tokoh-tokohnya sangat sesuai. Kucing hitamnya... meskipun terlihat mengenaskan karena begitu kurus, memang wujud seperti itulah yang cocok untuknya, karena dia kucing liar. Para penggemar kucing (seperti saya) jangan berharap akan melihat kucing hitam yang imut-imut ya :))

Wybie. Sumber: impawards.com
Tokoh Wybie yang hanya muncul dalam Coraline versi film, adalah seorang bocah lelaki usil yang sepertinya naksir Coraline. Ceritanya dia cucu dari pemilik Pink Palace. Wybie dekat dengan si kucing hitam karena suka memberi kucing itu makan. Wybie juga membantu melawan (potongan tangan) Beldam. Dia diberi peran yang signifikan, jadi saya tidak merasa tokohnya ini hanya sekadar tempelan.

Ulasan saya yang lebih lengkap tentang film Coraline bisa dilihat di sini.

Beragam versi desain sampul Coraline
Sumber: goodreads.com

Kembali ke buku

Coraline adalah salah satu buku yang telah membuat saya jatuh cinta dengan karya-karya Neil Gaiman. Hingga saat ini saya berusaha membaca dan mengumpulkan karya-karya beliau. Kalau ada kawan yang minta rekomendasi buku Gaiman, pasti saya sarankan untuk membaca Coraline atau Stardust, atau The Graveyard Book.

Walaupun Coraline tokoh utamanya anak-anak, ceritanya tetap asyik jika dibaca orang dewasa. Bahkan ada orang yang mengaku bahwa kisah Coraline membantunya menghadapi masa-masa sulit dengan penuh keberanian. Ya, kisah Coraline memang seram, apalagi jika dilihat dari sudut pandang anak-anak. Tapi... kisah ini juga mengandung harapan, dan keyakinan bahwa monster bisa dikalahkan, dan badai pasti berlalu.


Coraline karya Neil Gaiman saya ikutkan dalam tantangan membaca SEVENEVES no.9: Buku dengan tokoh utama anak-anak. Lebih lanjut tentang SEVENEVES bisa lihat tulisan saya di sini.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar