Selasa, 27 Desember 2016

Ungu di Matamu

Kapan sih, Mbak Prisca tidak menulis kisah yang manis dan menghangatkan hati?
Meskipun dalam Purple Eyes ini setting tempatnya di Norwegia kala musim dingin, tetap saja kehangatan yang terasa, menyeruak dari interaksi antar tokoh utama.


Sinopsis

(Meminjam dari Goodreads, dan dari blurb di belakang buku)

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun



Purple Eyes lebih cocok disebut novella, karena jumlah halamannya sedikit, di bawah 200. Saya bisa selesai membacanya dalam sekali duduk, kemudian merasa hampa...Sudah dapat diduga saat membaca premisnya, sebenarnya.... "Pemuda itu masih hidup, dan gadis itu sudah mati." Mana ada akhir kisah cinta bahagia untuk mereka berdua? Saya pribadi kurang puas dengan konklusi kisahnya, tapi jika dipertimbangkan dari berbagai aspek, mungkin memang itulah yang terbaik.

Meskipun titik beratnya adalah romansa, Purple Eyes juga memiliki aspek misteri dan supranatural. Ada kasus pembunuhan berantai yang disebut-sebut, tapi jangan harap Ivarr, tokoh utamanya akan berlagak seperti Sherlock Holmes dan menyelidiki kasus tersebut, meskipun dia memiliki motif kuat untuk melakukan itu. Karakter Ivarr (sang pemuda) memang cenderung pasif, sesuai dengan deskripsi yang menyebutkan bahwa dia kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi, setelah kehilangan adik satu-satunya.

Sementara itu, Solveig (sang gadis) bersifat lebih aktif dan banyak bicara untuk menngimbangi Ivarr. Meskipun sepertinya Solveig bukan tipe orang yang cerewet juga; dia terpaksa karena disuruh atasannya.

Secara keseluruhan, alur kisah Purple Eyes mengalir dan enak dibaca. Saya cuma punya satu ganjalan saja... yakni sewaktu Ivarr dan Solveig pertama kali pergi outing ke museum (kalau tidak salah). Disebutkan bahwa sepanjang perjalanan, Ivarr melihat ke luar jendela. Tapi tidak disebutkan mereka pergi naik apa. Saya jadinya menebak-nebak... mungkin mereka naik kereta? Atau trem (memangnya di Trondheim ada trem)? Atau naik mobil pribadi? Ah, entahlah... hal remeh sebenarnya, tapi jadi mengganggu keasyikan membaca.

Oh iya, Purple Eyes sendiri mengacu pada warna bola mata Ivarr. Ungu, seperti biru, adalah warna 'dingin', jadi cocok sekali dengan latar belakang kisahnya.

 
Karya Mbak Prisca yang harus saya baca berikutnya sepertinya adalah Love Theft, mengingat sang penulis sepertinya sangat mencintai karya yang satu ini hingga bela-belain self-publish ^^


Ulasan buku ini saya sertakan dalam tantangan membaca SEVENEVES nomor 8: buku yang ditulis oleh penulis Indonesia namun berlatar di luar negeri. Seperti yang sudah disebutkan di atas, Purple Eyes berlatar di Trondheim, Norwegia. Mbak Prisca memang sepertinya suka mengambil setting luar negeri dalam novel-novelnya, sebut saja Paris (Prancis) atau Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa (Rusia). Dia menggambarkannya dengan romantis, dan tecermin kegemarannya pada hal-hal yang bernuansa klasik. Deskripsinya akan tempat-tempat tersebut menggoda pembaca untuk bertandang sendiri ke sana.

Dengan ini, beres sudah saya menjawab seluruh tantangan membaca SEVENEVES. Terima kasih sudah mengadakan tantangan ini, Mas Jun dan Mbak Mary :)

Rabu, 21 Desember 2016

Kabut Dalam Cermin

Buku ini sebetulnya telah saya selesaikan sejak akhir Oktober lalu, namun baru saya tuliskan ulasan menyeluruhnya sekarang. Betapa malasnya saya mengisi blog akhir-akhir ini! Tapi saya tidak mau beralasan panjang lebar lah :p All you need to know is... I really really like this book!


Dengan buku ini, saya percaya pada cinta pada pandangan pertama. Begitu melihat penampakannya di Big Bad Wolf Serpong awal tahun 2016 ini, saya langsung memasukkannya ke keranjang. Tidak langsung dibaca, tapi diendapkan dulu selama beberapa bulan, dan baru diambil ketika saya membutuhkan bacaan yang menyeramkan.

The Mist in The Mirror menemani sebagian perjalanan saya ke Ubud, Bali untuk menghadiri acara Writers Festival. Saya benar-benar sendirian, mulai dari pergi, mengikuti berbagai acara di sana, hingga pulang lagi. Jadi, saya rasanya bisa sangat bersimpati pada Sir James Monmouth, tokoh utama dalam novel ini yang dikisahkan selalu mengembara ke berbagai tempat sendirian.

Penampakan

Buku ini formatnya hardcover berjaket, lengkap dengan pita pembatas. Dominasi warna biru tualah yang membuat saya jatuh cinta. Meskipun harcover, buku ini tidak berat, karena jumlah halamannya hanya 184. Bisa dipegang terbuka menggunakan satu tangan (sementara tangan satunya lagi makan...kalau saya sih begitu.. hehe). 


Sir James Monmouth pulang kampung
Sebagai anak yatim piatu, Sir James diasuh oleh sang paman yang membawanya tinggal di salah satu negeri eksotis. Dan setelah sang paman meninggal, Sir James berkelana ke berbagai negeri di dunia, terinspirasi oleh buku-buku travelling karya Conrad Vane.

Setelah puas berkelana, Sir James pun pulang ke kampung halamannya di London, Inggris, yang kebetulan juga merupakan kampung halaman Conrad Vane. Sir James memutuskan untuk menyelidiki masa lalu Vane dan menulis biografi tentangnya. Bukan perkara gampang, karena Sir James tidak punya kerabat, tidak punya kawan. Upayanya dalam menyelidiki Vane selalu dihalang-halangi, dengan alasan yang tidak jelas. Tapi semakin dihalangi, Sir James malah semakin penasaran dan bersemangat.

Bocah pucat penguntit
Hal lain yang meresahkan Sir James adalah penampakan bocah lelaki berwajah pucat yang sepertinya mengikuti Sir James ke mana-mana. Bocah ini muncul dan menghilang sesuka hati, tapi alih-alih merasa takut, Sir James merasa iba. Sepertinya bocah itu menjeritkan permintaan tolong melalui sorot matanya, tapi apa yang bisa Sir James lakukan untuk menolongnya?

Kittiscar Hall
Penelitian Sir James terhadap Conrad Vane akhirnya membawa dia ke Kittiscar Hall, kediaman leluhur Sir James. Ternyata ada hubungan yang tidak terduga antara Vane dan keluarga Monmouth, dan merupakan jawaban mengapa Sir James dihalang-halangi untuk menelitinya. Mungkinkah semua sudah terlambat dan Sir James harus menemui ajalnya di tempat ini?


Impresi

Ini buku Susan Hill kedua yang saya baca. Buku pertamanya adalah The Woman in Black, yang bagian akhirnya sukses mencabik-cabik hati saya. Nah, dengan bahagia bisa saya katakan bahwa The Mist in The Mirror tidak memiliki dampak seperti itu, tapi bukan berarti tidak ada dampak lain yang mencengkeram saya. Sepanjang cerita atmosfer sunyi, sepi, sendiri... begitu pekat. Dari deskripsi tempat dan keadaan, serta penuturan apa yang dipikirkan dan dirasakan Sir James Monmouth. Gaya narasinya mirip novel-novel klasik yang pernah saya baca; cukup panjang dan detail. Untuk para pembaca yang lebih menyukai kisah-kisah sarat aksi dan beralur cepat, saya tidak akan merekomendasikan buku ini. Mungkin kalian akan bosan dan tertidur.

Namun kawan-kawan yang menyukai karya klasik dan kisah-kisah mencekam, cobalah baca buku ini. Lebih terasa lagi atmosfernya jika dibaca di malam yang dingin, sembari bergelung dibalut selimut, ditemani segelas minuman panas. Selamat merinding :)



Saya menulis ulasan buku ini untuk menggenapi tantangan membaca SEVENEVES nomor 3: buku dengan setting tempat/waktu yang kamu suka.


Ada beberapa setting tempat/waktu yang saya suka, di antaranya Korea Selatan zaman dulu (gara-gara nonton historical drama Korea), Jepang (gara-gara suka baca manga), Portland (setting yang dipakai di film seri kesukaan saya, Grimm, juga dipakai di serial novel favorit saya. Charlie Parker Sequence, dan trilogi Wildwood), dan juga... London.

Dalam The Mist in The Mirror, setting-nya adalah London zaman dulu... saya membayangkannya zaman Victoria. Susan Hill menggambarkan setting dengan detail dan sangat baik. Ketika Sir James berjalan-jalan sendiri tengah malam (kurang kerjaan banget ya? Ceritanya dia tidak bisa tidur) di jalanan London yang sepi dan mencekam, saya ikut waswas khawatir sesuatu yang buruk akan menimpanya. Tempat ini sangat cocok untuk penampakan hantu.

Kemudian, ketika Sir James bekerja di perpustakaan tua... saya merinding membayangkan suatu sosok misterius melintas di antara rak-rak buku. Sir James terus-terusan menoleh ke balik bahunya, karena merasa ada yang mengawasi dia, padahal dia hanya sendirian di perpustakaan itu.



Novel-novel favorit saya lainnya yang mengambil setting di London adalah Neverwhere karya Neil Gaiman, atau Bartimaeus trilogy dan serial Lockwood & Co. karya Jonathan Stroud.